18676265 Konsep Pendidikan Anak Menurut Islam

|
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
 6 views
of 147

Please download to get full document.

View again

Description
KONSEP PENDIDIKAN ANAK MENURUT PANDANGAN ISLAM PROF.DR.BAIHAQI AK (ALMARHUM) A. Pendidikan Anak Sejak Awal Islam Sampai Zaman Dynasti ‘Abbasiyah 1. Pendidikan anak di zaman Nabi Menulis pendidikan di zaman Nabi, terutama apabila yang dimaksudkan adalah penulisan secara sistematis ilmiah, sama sulitnya dengan menulis pendidikan Islam pada umumnya. Bahan-bahan tertulis, kecuali yang terdiri dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang mengandung makna
Share
Transcript
  KONSEP PENDIDIKAN ANAK MENURUT PANDANGAN ISLAM  PROF.DR.BAIHAQI AK (ALMARHUM) A. Pendidikan Anak Sejak Awal Islam Sampai Zaman Dynasti ‘Abbasiyah 1.Pendidikan anak di zaman Nabi Menulis pendidikan di zaman Nabi, terutama apabila yang dimaksudkan adalah penulisansecara sistematis ilmiah, sama sulitnya dengan menulis pendidikan Islam pada umumnya.Bahan-bahan tertulis, kecuali yang terdiri dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabiyang mengandung makna mengajar dan mendidik, dapat dikatakan tidak adam, atau belumditemukan, para penulis di masa itu, karena masih amat sedikit, tersibukkan dengan kegiatanmenulis wahyu Allah (Al Qur’an) dan kejadian-kejadian yang dalam pandangan merekasangat penting misalnya prihidup dan perjuangan Nabi, dakwah dan penyiaran Islam dan peperangan-peperangan. Mengenai ini terdapat buku-buku dalam jumlah yang cukup banyak dan bahkan ada yang sampai puluhan jilid untuk satu judul masalah. 1 Kekurangan tulisan dibidang pendidikan disebabkan oleh, antara lain (1) jumlah yang relatif masih kecil, (2) faktor adat Arab yang kurang memberi cukup waktu bagi anak untuk beradadi luar rumah, (3) kondisi lingkungan yang didominasi oleh kegiatan penyiaran ajaran Islam,(4) peperangan-peperangan (jihad) yang menarik bagian terbesar dari porsi pemikiran umatIslam, termasuk para penulis, waktu itu.Di seluruh wilayah Arab, sebelum Islam, anak tidak mendapat perlakuan yang baik. Di dalamtradisi sebagian suku bangsa Arab malah terdapat kebiasaan membunuh anak perempuandengan cara menguburnya dalam keadaan hidup tanpa sedikitpun merasa belas kasihan.Keadaan mereka ini pada waktu itu sama saja dengan hewan yang memakan anaknya. 2 Diwilayah-wilayah lainnya, meskipun tidak menganut tradisi membunuh anak perempuan, berlaku hukum rimba di mana yang kuat mengeksploitasi yang lemah, yang kaya memerasyang miskin dan berbagai kekerasan lainnya tanpa rasa manusiawi. 3 Kebangkitan agama Islam telah membentuk kondisi atau suasana baru bagi nasib anak-anak orang Arab. Islam telah mengharamkan pembunuhan anak melalui firman-firman Allah,seperti yang antara lain terdapat pada 3 surah di dalam Al Qur’an :Pertama, Surah Al Isra : 31, yang artinya :                                                                                  “Janganlah kamu bunuh anak-anakmu karena takut lapar. Kamilah yang memberirizki mereka dan (juga rizki) kamu. “Kedua, Surah Al Takwir : 8, yang artinya : 1 Ahmad Syalabi, Tarikhu Al Tarbiyah Al Islamiyah , Daru al Kasysyaf li al Nasyri wa alThiba’ah wa al Tauzi, Mesir 1954, hal. 1 2 Fat-hiyah Hasan Sulaiman, Tarbiyatu Al Thifli Baina al Madhi wa Al Hadhir  , Mesir, Dar AlSyuruq, 1399 H/1979 M, hal. 11 3 HAMKA,  Sejarah Umat Islam , Jilid I, Cet. Ke 6, Jakarta Bulan Bintang, 1981, hal. 116-1181                    “Dan apabila anak perempuan yang telah dibunuh itu ditanya, karena dosa apa(maka) ia dibunuh ? “Ketiga, Surah Al An’am : 140, yang artinya :                                                                                                                                                              ”Sesungguhnya telah rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak merekakarena kebodohan, tanpa pengetahuan.”Selain daripada pengharaman pembunuhan anak tersebut, Islam, lebih jauh, telahmenampilkan ketentuan hukum yang memperlihatkan betapa pentingnya bahkan betapawajibnya memperhatikan dan merawat anak dengan penuh kasih sayang sejak sebelum dan,apalagi setelah lahir. Ibu yang sedang mengandung, jika merasa berat atau kuatir akankesehatannya terganggu, dibolehkan berbuka di kala orang lain sedang wajib berpuasa dalamRamadhan 4 agar menyusukan anaknya selama 2 tahun, jika ia bermaksud supaya penyusunanitu lebih sempurna dan menolong. 5 Jika karena satu dan lain hal ia tidak sanggup menyusukansendiri anaknya maka suami (dan juga isteri) diharuskan (baca: diwajibkan) mencari ibu lainyang mempunyai air susu agar, dengan upah yang wajar, membantu menyusukan anaknyatersebut sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Islam sama sekali tidak memberi isyarat meskipun tidak mengaramkan atau melarang penggantian air susu ibudengan air susu kambing, sapi atau susu buatan, melainkan mencari ibu lain, yakni manusiayang memiliki air susu agar anak menghisap air susu manusia, bukan air susu hewan ataususu buatan. 6 Islam mewajibkan suami agar berusaha untuk memenuhi kebutuhan biaya hidup keluarga,termasuk anak  7 ,karena dalam hal itu, secara alami, ia lebih kuat dan mampu. Sedangkanisteri dibebankan kewajiban merawat mengasuh anak, karena dalam hal ini ia, secara alami pula, lebih lembut, sabar dan kasih sayang. Dan nanti, setelah anak mencapai umur layak  4 Fat-hiyah Hasan Sulaiman, Op. Cit  ., hal. 82. Lihat juga Al Sayyid Sabiq, Fiqhu Al Sunnah,Jilid I, Cet. IV (revisi), Libanon, Beirut, Daru Al Fikri li Al Al Thiba’ah wa Al Nasyri wa Al Tauzi’,1403 H/1983 M., hal. 372. 5 Lihat Q.S. Luqman : 14 6 Lihat Q.S. Al Baqarah: 233. Arti ayat ini secara lengkap:Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang inginmenyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibudengan cara yang ma’ruf (wajar). Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan pewarispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaankeduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmudisusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaranmenurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apayang kamu kerjakan. 7 Lihat Q.S. Al Baqarah: 2332  untuk secara wajar dididik, maka ayah kembali terbeban kewajiban mendidiknya, sebabuntuk itu, dialah yang biasanya lebih berwibawa dan karenanya lebih bertanggungjawab.Isteri diwajibkan membantu dalam hal mendidik tersebut sehingga tercapai kerjasama yangharmonis dan edukatif dalam rumah tangga. Nabi Muhammad SAW, sebagai Rasul Allah, tidak membicarakan secara terjabar cara-cara(metode) pendidikan anak. Ajaran-ajaran yang disampaikannya melingkup segala aspek kehidupan manusia, baik kehidupan jasmani dan rohani maupun kehidupan anak, remaja,dewasa dan orang tua dan bahkan tidak saja kehidupan di dunia melainkan juga di akhirat.Khusus tentang manusia, Nabi SAW telah menyampaikan ajaran Allah mengenai proseskejadian anak di dalam kandungan, 8 termasuk ketentuan-ketentuan mengenai rizki, 9 umur , 10 nasib baik dan buruk. 11 Ajaran itu menyangkut pula proses-proses penentu sebelumnya,seperti petunjuk-petunjuk tentang pemilihan jodoh, 12 perkawinan, 13   persetubuhan, 14 dan pembinaan kerukunan rumah tangga. 15  Namun demikian, jika dipelajari ajaran-ajaran Islam tentang pendidikan secara umum akanterlihat bahwa Nabi SAW, sesuai dengan wahyu Allah, telah menetapkan garis-garis besarnya. Wahyu pertama, 16 dan wahyu kedua, 17  yang diturunkan Allah kepada NabiMuhammad telah memberi isyarat bahwa pendidikan Islam terdiri dari 4 belahan besar, yaitu:(1) pendidikan keagamaan, (2) pendidikan akal dan ilmu pengetahuan, (3) pendidikan akhlak mulia dan (4) pendidikan jasmani dan kesehatan. 18   Nabi Muhammad sendiri secaraoperasional telah melangkah ke arah realisasi keempat belahan tersebut sejak awal. Madrasah pertama jika dapat dikatakan madrasah yang dipilihnya untuk tempat pendidikan secaraformal adalah rumah AL Arqam bin Abi Al Arqam. Di situ ia mengajarkan pokok-pokok ajaran Islam, Menyampaikan wahyu-wahyu yang diterimanya dari Allah kepada sahabat-sahabatnya, menjawab pertanyaan-pertanyaan dan memberi contoh-teladan. Sedangkansecara informal Nabi mengajarkan agama Islam di rumahnya, dilapangan terbuka dan dimana saja. 19 8 Lihat Q.S. Al Mu’minun: 12–14. 9 Lihat Q.S. Hud: 6, Taaha: 132, Al Isra: 31, Al Thalaq: 3, Al An’am: 2 10 Ketentuan mengenai umur ada dalam rahasia Allah. Lihat Q.S. Al A’raf: 34, Al Nahl: 61,Luqman: 34. 11 Lihat Q.S. Al Furqan: 2, ‘Abasa: 19, Al Ra’du: 26, Al Nahl: 27, AL Isra’: 30. 12 Hadits nabi yang artinya: Dikawini seorang wanita karena kecantikannya, keturunannya,kekayaannya maka kawinilah wanita yang beragama, niscaya anda akan beruntung. 13 Lihat Q.S. Al Nisa: 22, Al Baqarah: 221, Al Nur: 3, Al Nisa: 3, Lihat juga: Abu Ishaq bin‘Ali bin Yusuf Al Fairuzabad Al Syirazi:  Al Muhadzdzab fi Fiqhi Al Imam Al Syafi’i  , Mesir Maktabahwa Mathba’ah Mushthafa Al Babi Al Halabi, Cet. II, 1379 H/1959 M, hal 35-41. 14 Abu Ishaq, Op. cit  ., hal. 67. Bahkan disunatkan membaca do’a agar terhindari dari gangguansyetan ketika akan bersetubuh. 15 Lihat Q.S. Al Nisa: 19. 16 Lihat Q.S. Al ‘Alaq: 1-5 yang mengandung makna (antara lain) pendidikan keagamaan dankeilmuan. 17 Lihat Q.S. Al Muddatstsir: 1-7 yang mengandung makna (antara lain) pendidikan kesehatan(karena) kebersihan pangkal kesehatan dan pendidikan akhlak mulia. 18 ‘Abdu Al Ghani ‘Abud, Fi Al Tarbiyah Al Islamiyah, Mesir, Daru Al Fikri Al ‘Arabi, 1977,hal. 120-121. Lihat juga Mahmud Yunus, Sedjarah Pendidikan Islam, Djakarta. Mutiara, 1963, hal. 5-6 19 Mahmud Yunus, Sedjarah Pendidikan Islam, Djakarta, Mutiara, 1963, hal. 6. Lihat juga:Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Tim Penyusun Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana PTA/IAIN,1986, hal. 29.3  Di antara sahabat-sahabat Nabi ada yang dengan suka rela membantu Nabi sebagai guru,misalnya ‘Umar Ibnu Al Khaththab, ‘Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit,‘Abdullah bin Salam, Salman Al Farisi. Sedang metode pengajaran di zaman Nabi adalah berpidato, menerangkan, tanya jawab, diskusi, teladan dan peragaan. Metode yang tersebutterakhir terlihat dalam cara Nabi memperagakan shalat kepada pengikut-pengikutnya,memperagakan akhlak Islami dan berbagai tindakan atau perbuatannya. Dengan metode-metode itu Nabi SAW menyeru umat ke arah meng-Esa-kan can menyembah Allah, membinaakhlak mulia dalam kalangan pengikutnya, seperti persaudaraan, persamaan, saling sayangdan hormat, menjaga hak dan kewajiban. 20  Kecenderungan para sahabat Nabi pada waktu itu adalah mendengar dan menghafal wahyu-wahyu Allah yang disampaikannya kepada mereka. Wahyu-wahyu itu dengan segera dansengaja diperintahkan Nabi untuk ditulis oleh beberapa orang sahabatnya, seperti Ubayya binKa’ab Al Anshari, Zaid bin Tsabit Al Anshari serta dibantu oleh 8 orang sahabat lainnya. 21 Disamping menghafal wahyu itu, mereka juga mendengar dan menghafal sabda-sabda Nabi.Tetapi sabda-sabda tersebut dilarang oleh Nabi untuk ditulis karena rupanya kuatir akan bercampur-baur dengan wahyu Allah. Namun demikian, para sahabat menghafal keduanyauntuk difahami, dihayati dan diamalkan.Diantara hail gemilang dari kegiatan Nabi dibidang pendidikan dan dakwah adalah bersatunya bangsa Arab ke dalam agama Islam, sekaligus mengamalkannya sehingga polatingkah laku yang semula penuh dengan kekerasan dan kekejaman, termasuk kepada anak, berubah secara ekstrim menjadi sebaliknya. Ajaran Islam tentang persaudaraan dalam persamaan dan yang termulia dalam pandangan Allah hanyalah yang paling taqwa, 22 dan bahwa semua mereka yang beriman adalah bersaudara, 23  menjadi benar-benar terealisir dalamrealitas kehidupan sosial bangsa arab. Anak-anak menjadi disayang, diasuh, dirawat dandididik. Nabi sendiri telah merupakan teladan yang paling utama dalam hal bergaul dan kasih sayangterhadap anak. Keteladannya itu terutama terlihat dalam tingkah laku pergaulannya dengancucunya. Hasan dan Husin, dua orang putera ‘Ali dari Fatimah binti Rasul Allah, pada waktukeduanya masih kecil. Dalam pergaulannya itu, Nabi telah memperlakukan Hasan dan Husinsebagai anak, sebagai cucu, bukan sebagai manusia dewasa yang kecil. Sehubungan dengantingkah laku tersebut terdapat beberapa sabda Nabi SAW :Pertama, 24 Barangsiapa mempunyai anak kecil maka hendaklah ia mempergaulinya sebagai anak kecil.Kedua, 25 20 Fat-hiyah Hasan Sulaiman, Op. cit. , hal. 75 21 Mahmud Yunus, Op. cit  ., hal. 19 22 Lihat Q.S. Al Hujurat: 13 23 Hadits shahih, lihat Isma’il ‘Ali, Nasy’atu Al Tarbiyah Al Islamiyah, Al Qahirah, A’lamu AlKutubi, 1978, hal. 2. 24 Fat-hiyah Hasan Sulaiman, Op. cit  ., hal. 72. 25    Ibid  .4
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x