Polya K5 - BAB II.docx

|
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
 7 views
of 26

Please download to get full document.

View again

Description
BAB II PEMBAHASAN A. Sekilas tentang George Polya Polya lahir dengan nama György Pólya di Budapest, Hungaria sebagai anak ke empat dari lima bersaudara pada 13 Desember 1887. Lahir dari seorang ibu yang bernama Anna Deutsch dan ayah yang bernama Jakab Pólya. Orang tua Polya lahir sebagai seorang Yahudi, namun pada tahun 1886 berpindah agama ke Roman Catholicims. Ibunya ingin agar Polya meneruskan profesi ayahnya sebag
Share
Transcript
  2 BAB II PEMBAHASAN A.   Sekilas tentang George Polya Polya lahir dengan nama György Pólya di Budapest, Hungaria sebagai anak ke empat dari lima bersaudara pada 13 Desember 1887. Lahir dari seorang ibu yang  bernama Anna Deutsch dan ayah yang bernama Jakab Pólya. Orang tua Polya lahir sebagai seorang Yahudi, namun pada tahun 1886 berpindah agama ke Roman Catholicims. Ibunya ingin agar Polya meneruskan profesi ayahnya sebagai seorang  pengacara dengan kuliah di bidang hukum. Polya lulus dan masuk universitas Budapest pada tahun 1905 dengan biaya ditanggung oleh Jeno, seorang ahli bedah. Awalnya Polya mengambil jurusan hukum, namun hanya bertahan satu semester. Kemudian beralih untuk mempelajari bahasa latin dan sastra hingga Polya memperoleh gelar di bidang sastra. Namun karena bosan, Polya memutuskan untuk  belajar filsafat. Seorang professor, Bernat Alexander menyarankan agar Polya mengambil mata pelajaran fisika dan matematika untuk membantu memahami filsafat. Disebutkannya bahwa fisika terlalu sulit dan filsafat terasa terlalu mudah, sedang matematika berada di tengah-tengah. Di universitas Budapest, Polya belajar fisika di bawah bimbingan Eotvos dan matematika dibimbing oleh Fejer yang pada saat itu adalah seorang matematikawan terkemuka Hongaris. Bersama Fejer, Polya membuat karya-karya kolaborasi, dimana pengaruh Fejer sangat terasa pada karya-karya Polya di kemudian hari. Tahun 1910-1911, Polya kuliah di universitas Vienna, dengan uang yang diperoleh lewat mengajar anak-anak orang kaya sebagai dosen pribadi. Tahun berikutnya, Polya kembali ke Budapest dan dianugerahi dengan gelar doktorat di bidang matematika. Tahun 1912-1913 kembali menekuni matematika di Gottingen lewat kumpulan matematikawan terkemuka di dunia seperti Hilbert, Weyl, Edmund Landau, Runge, Courant, Hecke dan Toeplitz. Polya bertemu dengan Szego di Budapest pada kisaran tahun 1913. Szego  pada saat itu masih mahasiswa di Budapest dan bersama dengan Polya mendiskusikan praduga karyanya tentang koefisien-koefisien Fourier. Szego  Kelompok 5 | 3 tertarik untuk membuktikan praduga Polya yang dijadikan karya publikasi  perdananya. Beberapa tahun kemudian, ketika Polya memutuskan untuk menulis  buku tentang problem-problem dalam analisis, dia meeminta bantuan Szego dan hamper selama dua tahun mereka bekerja sama. Tahun 1920, Polya diangkat menjadi  Extraordinary Professor   di ETH disusul memperoleh beasiswa dari Rockefeller pada tahun 1924, yang memungkinkan dirinya belajar bersama Hardy di Inggris. Mulai tahun itu, Polya terkadang berada di Oxford atau Cambridge, bekerja bersama Hardy dan Littlewood. Buku karya trio matematikawan ini terbit pada tahun 1934 dengan judul  Inequalities . Pada kurun waktu 1926-1928, Polya membuat 31 makalah dengan jangkauan topik, kedalaman dan banyaknya publikasi yang dilakukannya membuat dia diangkat menjadi Ordinary Professor   di ETH pada tahun 1928. Polya layak disebut matematikawan paling berpengaruh pada abad 20. Riset mendasar yang dilakukan pada bidang analisis kompleks, fisika matematikal, teori  probabilitas, geometri dan kombinatorik banyak memberi sumbangsih bagi  perkembangan matematika. Sebagai seorang guru yang piawai, minat mengajar dan antusiasme tinggi tidak pernah hilang sampai akhir hayatnya. Semasa di Zurich, karya-karya di bidang matematika sangat beragam dan produktif. Tahun 1918, dia disibukkan dengan mengarang makalah tentang deret, teori bilangan, sistem voting dan kombinatorik. Tahun berikutnya, menambah dengan topik-topik seperti astronomi dan probabilitas. Selain itu Polya mampu membuat hasil mengesankan  pada fungsi-fungsi integral. Polya memperoleh gelar PhD dalam matematika dari Budapest. Tahun 1933, Polya kembali mendapatkan  Rockefeller Fellowship  dan kali ini dia pergi ke Princeton. Saat di Amerika, Polya diundang oleh Blichfeldt untuk mengunjungi Stanford yang menarik minatnya. Kembali ke Zurich pada tahun 1940, namun situasi di Eropa menjelang perang dunia II, memaksa Polya kembali ke Amerika. Bekerja di universitas Brown dan Smith College selama 2 tahun, sebelum menerima undangan dari Stanford yang diterimanya dengan senang hati. Kemudian pada tahun 1940-1953 di Stanford University, beliau dia ngkat sebagai “ Stanford  Professor Emeritus the rest of his life and career  “ .  Teori Belajar Polya | 4   Sebelum meninggalkan Eropa, Polya sempat mengarang buku  How to Solve  It   yang ditulis dalam bahasa Jerman. Setelah mencoba menawarkan ke berbagai  penerbit akhirnya dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris sebelum diterbitkan oleh Princeton. Buku ini menjadi buku best seller yang terjual lebih dari 1 juta copy dan dialihbahasakan ke dalam 17 bahasa. Buku ini berisikan metode-metode sistematis guna menemukan solusi atas masalah yang dihadapi dan memungkinkan seseorang menemukan pemecahannya sendiri. Polya menulis buku lainnya tentang topik  Mathematical Discovery: On Understanding, Learning, and Teaching  Problem Solving; Mathematics and Plausible Reasoning Volume: Induction and  Analogy in Mathematics; dan  Mathematics and Plausible Reasoning Volume II:  Patterns of Plausible Reasoning  . Polya dikenal sebagai “ The Father of Problem Solving”.  George Polya meninggal di Palo Alto, California pada 7 September 1985 (O’Connor dan E.F. Robertson,  2002). B.   Pengertian Pemecahan Masalah Polya (1945) mengartikan pemecahan masalah sebagai suatu usaha mencari  jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai tujuan yang tidak begitu segera dapat dicapai. Gagne, dkk (Hadi dan Radiyatul, 2014) menyatakan bahwa  pemecahan masalah merupakan salah satu tipe keterampilan intelektual yang derajatnya lebih tinggi dan lebih kompleks dari tipe keterampilan lain yaitu belajar, isyarat, stimulus respon, rangkaian gerak, rangkaian verbal, membedakan,  pembentukan konsep, pembentukan aturan, dan pemecahan masalah. Pemecahan masalah memerlukan aturan kompleks atau aturan tingkat tinggi dan aturan tingkat tinggi dapat dicapai setelah menguasai aturan dan konsep terdefinisi. Demikian pula aturan dan konsep terdefinisi dapat dikuasai jika ditunjang pleh pemahaman konsep konkret. Setelah itu untuk memahami konsep konkret diperlukan keterampilan dalam membedakan. Isriani dan Dewi (2012:86) menyatakan bahwa pemecahan masalah dipandang sebagai suatu proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi yang baru. Komariah (2011) mengemukakan bahwa pemecahan masalah (  problem solving  ) sebagai rangkaian  Kelompok 5 | 5 aktivitas pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Pemecahan masalah tidak sekedar sebagai bentuk kemampuan menerapkan aturan yang telah dikuasai melalui kegiatan belajar terdahulu, melainkan lebih dari itu, merupakan porses untuk mendapatkan aturan pada tingkat lebih tinggi. Kemampuan pemecahan masalah sangat penting bagi siswa dan masa depannya. Para ahli pembelajaran sependapat bahwa kemampuan pemecahan masalah dalam  batas-batas tertentu, dapat dibentuk melalui bidang studi dan disiplin ilmu yang diajarkan (Wena, 2013:53). Tuntutan akan kemampuan dasar yang harus dikuasai siswa dipertegas secara eksplisit dalam kurikulum sebagai kompetensi dasar yang dikembangkan dan diintegrasikan pada sejumlah materi yang sesuai. Mengacu pendapat-pandapat di atas, maka pemecahan masalah dapat dilihat dari berbagai pengertian yaitu pemecahan masalah sebagai upaya mencari jalan keluar yang dilakukan dalam mencapai tujuan yang memerlukan kesiapan, kreativitas, pengetahuan, dan kemampuan serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pemecahan masalah merupakan persoalan-persoalan yang  belum dikenal serta mengandung pengertian sebagai proses berpikir tingkat tinggi. Terdapat tiga ciri utama dari pemecahan masalah (  problem solving  ) yaitu (Komariah, 2011): 1.    Problem solving   merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa.  Problem  solving tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui problem solving siswa diharapkan aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.   2.   Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah.  Problem  solving menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya tanpa masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.   3.   Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses  berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x