0991561006-3-BAB_II.pdf

|
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
 9 views
of 30

Please download to get full document.

View again

Description
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Pengelolaan Sumber Daya Air Sumber daya air yang terdiri atas air, sumber air, dan daya air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang memberikan manfaat untuk mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat di segala bidang, baik sosial, ekonomi, budaya, politik maupun bidang ketahanan nasional (Sjarief, 2002). Karakteristik Sumber Daya Air (SDA) sangat dipengaruhi aspek topografi dan geolog
Share
Transcript
    13   BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1.   Pengelolaan Sumber Daya Air Sumber daya air yang terdiri atas air, sumber air, dan daya air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang memberikan manfaat untuk mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat di segala bidang, baik sosial, ekonomi, budaya,  politik maupun bidang ketahanan nasional (Sjarief, 2002). Karakteristik Sumber Daya Air (SDA) sangat dipengaruhi aspek topografi dan geologi, keragaman penggunaannya, keterkaitannya (hulu-hilir, kuantitas dan kualitas), waktu serta siklus alaminya. Oleh karena adanya faktor topografi dan geologi, maka sumber daya air dapat bersifat lintas wilayah administratif. Dengan demikian kuantitas dan kualitas air sangat tergantung pada tingkat pengelolaan air  pada masing-masing daerah. Karena karakteristik aliran dapat mencakup beberapa wilayah, maka air sering disebut sumber daya dinamis ( dynamic flowing resource ). Dengan sifat air yang selalu mengalir, maka ada keterkaitan yang sangat erat antara kuantitas di hulu dan hilir, instream  dengan offstream , air  permukaan dan air bawah tanah. Akhirnya perlu diingat, bahwa air memerlukan sifat kelanggengan ketika digunakan, baik oleh generasi sekarang maupun mendatang (Ditjen Penataan Ruang, Dep. Kimpraswil, 2001). Untuk mempertahankan sifat kelanggengan air tersebut, maka diharapkan  pengelolaan air dikelola berdasarkan pada UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA). Dalam Undang-Undang tersebut, menyebutkan bahwa  14    pengelolaan SDA adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Sumber daya air dikelola secara menyeluruh, terpadu, dan berwawasan lingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar- besar kemakmuran rakyat. Menyeluruh berarti mencakup semua bidang  pengelolaan yang meliputi konservasi, pendayagunaan, dan pengendalian daya rusak air, serta meliputi satu sistem wilayah pengelolaan secara utuh yang mencakup semua proses perencanaan, pelaksanaan serta pemantauan dan evaluasi. Terpadu merupakan pengelolaan yang dilaksanakan dengan melibatkan semua  pemilik kepentingan antar sektor dan antar wilayah administrasi. Berwawasan lingkungan hidup adalah pengelolaan yang memperhatikan keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan. Sedangkan berkelanjutan adalah  pengelolaan sumber daya air, tidak hanya ditujukan untuk kepentingan generasi sekarang, tetapi juga termasuk untuk kepentingan generasi yang akan datang. Menurut Grigg (1996), pengelolaan sumber daya air didefinisikan sebagai aplikasi dari cara struktural dan non-struktural dalam mengendalikan sistem sumber daya air alam dan buatan manusia untuk kepentingan/manfaat manusia dan tujuan-tujuan lingkungan. Tindakan-tindakan struktural ( structural measure ) untuk pengelolaan air adalah fasilitas-fasilitas yang terbangun ( constructed  facilities ) yang digunakan untuk mengendalikan aliran air, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Tindakan-tindakan non-struktural ( non-structural measures ) untuk pengelolaan air adalah program-program atau aktifitas yang tidak  15   membutuhkan fasilitas-fasilitas terbangun. Di samping itu, Grigg (1996) juga mendefinisikan beberapa hal tentang sumber daya air, meliputi: 1.   Sistem sumber daya air adalah sebuah kombinasi dari fasilitas-fasilitas  pengendalian air dan elemen-elemen lingkungan yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air. 2.   Sistem sumber daya air alami adalah sekelompok elemen hidrologi dalam lingkungan alam, yang terdiri dari atmosfir, daerah aliran sungai atau daerah tangkapan air, sungai-sungai, lahan basah, daerah banjir (  flood plains ), akuifer dan sistem aliran air tanah, danau, estuari, laut dan lautan. 3.   Sistem sumber air buatan manusia adalah sekelompok fasilitas yang dibangun untuk digunakan sebagai pengendali aliran air, baik secara kuantitas maupun kualitas. 4.   Sistem tata pengairan merupakan susunan tata letak sumber air, termasuk bangunan pemanfaatan sesuai ketentuan teknik pembinaan di suatu wilayah. Menurut Sri Harto (2000), pengembangan sumber daya air dapat diartikan secara umum sebagai upaya pemberian perlakuan terhadap fenomena alam, agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan manusia. Fenomena alam yang terjadi merupakan fenomena apa adanya, tidak dapat diatur dan tidak dapat diprediksi secara akurat. Variabel-variabel ini mengandung variabilitas ruang ( spatial variability ) dan variabilitas waktu ( temporary variability ) yang sangat tinggi. Oleh karena itu, analisis kuantitatif dan kualitatif harus dilakukan secermat  16   mungkin agar hasilnya merupakan informasi yang akurat untuk pengembangan dan perencanaan sumber daya air. Pengembangan sumber daya air merupakan  bagian dari pengelolaan sumber daya air, yang merupakan suatu aktifitas yang komplek dirancang untuk menyelaraskan semua kebutuhan serta penyediaan air secara seimbang pada ruang dan waktu, tanpa mengabaikan lingkungan kehidupan yang serasi. Secara umum, masalah pengelolaan sumber daya air (SDA) dapat dilihat dari kelemahan mempertahankan sasaran manfaat pengelolaan SDA dalam hal  pengendalian banjir dan penyediaan air baku bagi kegiatan domestik, pertanian,  peternakan, dan industri. Masalah penyediaan air baku yang dibutuhkan bagi kegiatan rumah tangga, baik di pedesaan dan perkotaan, serta industri, sering mendapat gangguan secara kuantitas, dalam arti terjadinya penurunan debit akibat terjadinya pembukaan lahan-lahan baru bagi pemukiman baru di daerah hulu, yang berakibat pada pengurangan luas daerah   tangkapan air ( catchman area ) sebagai sumber penyedia air baku. Di samping itu, secara kualitas penyediaan air  baku sering tidak memenuhi standar, karena adanya pencemaran air sungai oleh limbah rumah tangga, perkotaan dan industri. Sedangkan, kebijakan dasar yang diterapkan dalam pengelolaan sumber daya air, antara lain: (Ditjen Penataan Ruang, Dep. Kimpraswil, 2001) a.   Pengelolaan sumber daya air secara nasional harus dilakukan secara holistik, terencana, dan berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan nasional dan melestarikan lingkungan, untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dan ketahanan nasional.
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks