Peran+Auditor+dalam+Deteksi+Fraud_JPAI+Vol+V+No+1.pdf

All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
 113 views
of 16

Please download to get full document.

View again

Description
PENINGKATAN PERAN AUDITOR DALAM PENCEGAHAN DAN PENDETEKSIAN FRAUD Mimin Nur Aisyah Abstract Since the bankrupty cases of several big companies that involve their auditors in the accounting scandal, this profession get strong pressure to improve their performance. Sarbanes Oxley Act of 2002 contains a comprehensive rule about corporate governance. It will increase the num
Share
Transcript
   1 PENINGKATAN PERAN AUDITOR DALAM PENCEGAHAN DAN PENDETEKSIAN FRAUD   Mimin Nur Aisyah Abstract Since the bankrupty cases of several big companies that involve their auditors in the accounting scandal, this profession get strong pressure to improve their  performance. Sarbanes Oxley Act of 2002 contains a comprehensive rule about corporate governance. It will increase the number of charges to white collar criminals.  Fraud in the company is management’s responsibility, but auditors also have the responsibility to find and disclose it by make a plan and audit work to get a reasonable assurance whether financial statement free from material misstatement, neither caused by error nor by irregularities. The evaluation of organizational condition, company’s  structure and choices made is expected to help disclosing the motivation, opportunity and rationalization beyond the fraud of financial statement. While the management should create a condusive environment in the company to avoid the occurrence of fraud arises from motivation and opportunities, auditors  should improve their competence, especially in fraud detection, by a strategic reasoning in audit risk valuation, audit planning and audit working. Strategic reasoning will be more challenging by the existence of strategic dependence in which the level of auditor’s expectation on manager’s action is affecting manager’s action.   P ENDAHULUAN   Skandal Enron Corporation, WorldCom dan sejumlah perusahaan besar dunia lainnya telah menyita perhatian banyak pihak. Kebangkrutan perusahaan-perusahaan tersebut telah menyebabkan kerugian jutaan dollar bagi investor dan kreditur. Kasus ini  juga menyeret beberapa kantor akuntan publik terbesar di dunia ke dalam penyelidikan  pengadilan atas dugaan perannya dalam skandal-skandal akuntansi yang terjadi. Sebagai tanggapan atas kerugian besar yang dialami investor, pada tanggal 30 Juli 2002, pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan Sarbanes Oxley Act of 2002 , sebuah aturan yang dianggap sebagai hukum federal Amerika Serikat yang paling   2 komprehensif terkait dengan corporate governance . Aturan baru ini mengharuskan CEO dan CFO perusahaan publik untuk menyiapkan sebuah pernyataan yang melengkapi laporan audit, yaitu yang menyatakan kelayakan laporan keuangan dan  pengungkapan yang terdapat dalam laporan periodik, dan bahwa laporan keuangan dan  pengungkapan tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material,  pengoperasian dan kondisi keuangan dari perusahaan yang menerbitkannya. Lebih lanjut, masing-masing laporan keuanga n harus berisi “laporan  p engendalian internal” yang akan:  (1) menyatakan tanggung jawab manajemen untuk membuat dan memelihara struktur dan prosedur pengendalian internal yang memadai untuk memastikan bahwa laporan keuangan secara material telah disajikan dengan tepat; dan (2) berisi penilaian tentang efektivitas struktur dan prosedur pengendalian internal. Peraturan ini juga menetapkan badan pengawas publik, yaitu Public Company Accounting Oversight Board, yang terdiri dari dua akuntan publik bersertifikasi dan tiga  personil non akuntan yang memiliki pengetahuan tentang keuangan. SEC, Chairman of Federal Reserve Board dan Secretary of the Treasury bersama-sama bertanggungjawab atas penunjukkan anggota Oversight Board. Peraturan ini juga menambah jumlah  pelanggaran yang dapat digolongkan sebagai kejahatan perusahaan dan memperketat hukuman yang dikenakan. Hal ini nampaknya akan meningkatkan jumlah tuntutan terhadap pelaku kejahatan kerah putih ( white collar crime ). K  ECURANGAN (F RAUD ) Menurut Merriam Webster  ’s Dictionary of Law (1996) seperti dikutip dalam Viton (2003), definisi fraud adalah: “Any act, expression, omission, or concealment calculated to deceive another to his or her disadvantage, specifically, a misrepresentation or concealment with reference to some fact material to a transaction that is made with knowledge of its falsity or in reckless disregard of its truth or falsity and with the intent to deceive another and that is reasonably relied on by the other who is injured thereby”.  Sedangkan pengertian kecurangan (fraud) menurut the Association of Certified Fraud Examines (ACFE) dalam Vanasco (1998) dan Halim (2003) adalah: “All multifariators means which human ingenuity can devise, and which resorted by one individual to get advantage over another by false suggestions or suppression of the truth,   3 and includes all surprise, trick, cunning or dissembling and any unfair way by which another cheated”.  Menurut ACFE ini, kecurangan merupakan segala sesuatu yang secara lihai dapat digunakan untuk mendapat keuntungan dengan cara menutupi kebenaran, tipu daya, kelicikan atau mengelabuhi dan cara tidak jujur yang lain. AICPA dan IAI tidak membedakan secara jelas apakah kecurangan tersebut merupakan kesalahan yang  berakibat salah saji material atau tidak, yang perlu diperhatikan adalah faktor yang mendasari alasan kecurangan, yaitu tindakan yang mendasari salah saji material ( misstatement  ) apabila disengaja. Oleh karenanya, ketidakmampuan dan buruknya manajemen tidak termasuk penipuan. Keinginan menipu untuk keuntungan pribadi dan kerugian untuk pihak yang mengandalkan kebenaran bukti nyata transaksi merupakan elemen terpenting penipuan. M ACAM F RAUD   Seperti disebutkan oleh Halim (2003), SAS no. 82, Consideration of Fraud in a Financial Statement Audit, mengungkapkan setidaknya terdapat dua macam fraud, yaitu  fraudulent financial reporting   dan misappropriation of assets . IAI (2001) menjelaskan dalam SPAP seksi 316 menyatakan hal serupa, yaitu: 1.   Salah saji yang timbul dari kecurangan dalam laporan keuangan, yaitu salah saji atau  penghilangan dengan sengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan untuk mengelabuhi pemakai laporan keuangan. 2.   Salah saji yang timbul dari perlakuan yang tidak semestinya. Hal ini seringkali disebut dengan penyalahgunaan atau penggelapan berkaitan dengan pencurian aktiva entitas yang berakibat laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum di Indonesia. Karpoff dan Lott (1993), sebagaimana terdapat dalam Uzun et al (2004), memperkenalkan empat jenis fraud, yaitu: 1.    Fraud of stakeholder  : terjadi jika perusahaan bertindak curang terhadap kontrak yang bersifat eksplisit maupun implicit dengan  supplier  , karyawan,  franchisees , atau customer   selain pemerintah. 2.    Fraud of government  : terjadi jika perusahaan melakukan kecurangan dalam kontrak implisif maupun eksplisit dengan sebuah badan pemerintahan.   4 3.    Fraud of financial reporting  : terjadi jika agen dalam perusahaan salah dalam menyajikan kondisi keuangan perusahaan. 4.    Regulatory violations : meliputi pelanggaran terhadap peraturan yang ditetapkan  badan pemerintah. Adapun menurut Viton (2003), ada tiga macam penipuan di tempat kerja, antara lain: (1) kecurangan manajemen; (2) kecurangan dalam pekerjaan; dan (3) korupsi. 1.   Kecurangan Manajemen (Management Fraud) Kecurangan manajemen yang terjadi pada jajaran atas perusahaan merupakan kecurangan yang menghasilkan kerugian terbesar. Kecurangan ini melibatkan salah saji laporan keuangan yang disengaja untuk melaporkan kinerja keuangan yang lebih baik dari yang sebenarnya. Rezaee menyatakan bahwa penilaian kondisi organisasi, struktur perusahaan dan  pilihan yang dibuat dapat membantu mengungkapkan motivasi, peluang, dan rasionalisasi di balik terjadinya kecurangan laporan keuangan.    Motivasi dan tekanan untuk terlibat dalam kecurangan laporan keuangan dinyatakan sebagai kondisi (condition) . Tekanan perusahaan untuk memenuhi  perkiraan laba yang dibuat analis memainkan peran penting dalam terjadinya kecurangan jenis ini.    Struktur perusahaan (corporate structure   )  dapat menciptakan lingkungan yang meningkatkan kecenderungan terjadinya kecurangan pelaporan keuangan. Karena manajemen biasanya merupakan pelaku kecurangan, maka tidak mengherankan jika kejahatan ini biasanya terjadi di lingkungan yang ditandai oleh corporate governance  yang tidak bertanggung jawab dan tidak efektif.      Manajemen harus membuat pilihan   (choices) antara menggunakan strategi etika  bisnis untuk mencapai peningkatan berlanjut dalam kualitas maupun kualitas laba dengan melakukan pola earning management   untuk menunjukkan stabilitas maupun pertumbuhan laba. Anggota manajemen mungkin akan memilih untuk melakukan kecurangan laporan keuangan jika: (1) kemakmuran pribadi mereka  berhubungan erat dengan kinerja perusahaan; (2) mereka bersedia mengambil risiko pribadi untuk keuntungan pribadi; (3) adanya kesempatan untuk melakukan kecurangan laporan keuangan; (4) adanya tekanan yang besar dari  pihak internal maupun ekternal untuk menciptakan atau memaksimumkan
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks